Tampilkan postingan dengan label Cerita Wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Wayang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juni 2014

Sri Boyong


Sri Boyong

                               Dikisahkan di negeri Amarta yaitu negeri para Pandawa sedang terkena bencana, mengalami krisis yang berkepanjangan, kejahatan merajalela, kakacauan terjadi dimana – mana, mengalami, mengalami gagal panen, dilanda kelaparan dan penyakit, korupsi semakin marak. Selain itu juga adanya masalah internal antar pemimpin negeri Amarta.
                   Yudhistira yaitu raja negeri Amarta kebingungan untuk mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian Prabu Kresna yaitu sepupu Pandawa berpesan pada Yudhistira untuk mencari Sang Hyang Sri. Karena hanya kedatangan Sri yang bisa mengembalikan kesejahteraan Amarta. Sang Hyang Sri atau Dewi Sri adalah Dewi Kesejahteraan dan Kesuburan. Dia mempunyai watak yang murah hati, baik budinya, sabar, dan bijaksana.
                   Kemudian semua kesatria Pandawa dikerahkan untuk menemukan Sri, tetapi mereka selalu mengalami kesulitan dalam pencarian. Para penguasa negeri angkara menghadang mereka. Gatotkaca, Setyaki, bahkan Arjuna pun tidak mampu mengalahkan mereka. Menurut Kresna, yang bisa membawa Sri pulang hanyalah kesatria yang masih suci, bernurani, dan berani.
                   Yudhistira mengutus Bambang Probo Kusuma putra Arjuna untuk menjalankan misi itu. Melalui perjuangan dan usaha yang sangat berat dan penuh resiko, akhirnya Bambang bisa membawa Sri ke Amarta. Sri muli dan negeri Amarta kembali pulih.

Dewa Ruci


Dewa Ruci

Semua bermula ketika Bima disuruh oleh Guru Durna untuk menemukan Air Suci Prawitasari,agar hidupnya benar - benar tentram bahagia. Prawita dari pawita artinya bersih, suci; sari adalah inti. Jadi, Air Suci Prawitasari adalah inti dari Ngelmu Suci. Guru Durna menilai bahwa sudah saatnya Bima mendapatkan tataran ngelmu yang lebih tinggi. Menurut pengamatannya , Bima sampai saat ini telah berhasil menyelesaikan banyak tugas dalam bidang keduniawian, dia mampu karena pandai dan prigel dan dia punya budi luhur dan sikap mental yang baik.  Bima lalu ke Ngamarta, memberitahu dan pamitan kepada saudara-saudaranya. Yudisthira diminta oleh ketiga adiknya supaya menghalangi keinginan Bima. Bima tidak dapat dihalangi, lalu pergi berpamitan dan minta petunjuk kepada pendeta Durna. Bima menghadap pendeta Durna. Pendeta Durna memberitahu, bahwa air suci berada di hutan Tikbrasara. Bima lalu berpamitan kepada raja Doryudana dan pendeta Durna.
Bima meninggalkan kerajaan Ngastina, masuk ke hutan. Setelah melewati hutan dengan segala gangguannya, perjalanan Bima tiba di gunung Candramuka. Bima mencari air suci di dalam gua dan membongkari batu-batu. Tiba-tiba bertemu dengan dua raksasa bernama Rukmuka dan Rukmakala. Bima diserang. Kedua raksasa mati dan musnah oleh Bima. Mereka berdua menjelma menjadi dewa Indra dan dewa Bayu. Kemudian terdengar suara, memberi tahu agar Bima kembali ke Ngastina. Di tempat itu tidak ada air suci. Bima segera kembali ke Ngastina.
Bima tiba di Ngastina menemui pendeta Durna yang sedang dihadap oleh para Korawa. Mereka terkejut melihat kedatangan Bima. Semua yang hadir menyambut kedatangan Bima dengan ramah. Pendeta Durna menanyakan hasil kepergian Bima. Bima menjawab bahwa ia tidak menemukan air suci di gunung Candramuka. Ia hanya menemukan dua raksasa dan sekarang telah mati dibunuhnya. Pendeta Durna berkata, bahwa air suci telah berada di pusat dasar laut. Bima percaya dan akan mencarinya. Dengan basa-basi Duryodana memberi nasihat agar Bima berhati-hati. Bima berpamitan kepada pendeta Durna dan Doryudana. Bima menemui saudara-saudaranya di kerajaan Ngamarta, ia minta pamit pergi mencari air suci.
Yudisthira dan adik-adiknya sangat sedih, lalu memberitahu kepada Prabu Kresna raja Dwarawati. Kresna datang di Ngamarta, memberi nasihat agar para Pandhawa tidak bersedih hati. Dewa akan melindungi Bima. Bima minta diri kepada Kresna dan keluarga Pandhawa. Banyak nasihat Kresna kepada Bima, tetapi Bima teguh pada keinginannya. Para Pandhawa mencoba menghalang-halanginya, tetapi tidak berhasil menahannya.
                               Kemudian Bima mencari Air Suci Prawitasari didalam samudra. Samudra mengingatkan kepada kata “samudra pangaksama” artinya punyailah hati yang lapang, jadilah orang yang pemaaf. Bima meneruskan perjalanan dan tanpa ragu masuk ke samudra. Belum lama berada diair, Bima sudah mau diterkam seekor Ular Laut Raksasa. Bima bukan orang penakut, ular laut itu dihadapinya dan akhirnya Bima mampu mengalahkan ular itu.
Sesudah Bima berhasil menyingkirkan semua hambatan, mendadak tanpa persiapan apapun , dia ketemu dengan Dewa mungil yang bercahaya terang tetapi tidak menyilaukan ,rupanya mirip benar dengan dirinya, namanya Dewa Suksma Ruci.Bima diperintahkan masuk kedalam raga Dewa Suksma Ruci melalui telinga kiri dewa tersebut.
Meskipun ragu, bagaimana mungkin dia yang bertubuh besar bisa masuk ketelinga dewa kecil tersebut.  Bima patuh dan melakukan seperti yang diperintahkan. Dan apa yang terjadi? Bima sudah berada didalam dan disitu Bima bisa melihat seluruh jagat dan juga dewa mungil tersebut.
Pelajaran spiritual dari bertemunya Bima dengan Dewa Suksma Ruci adalah : Bima bersamadi dengan benar dan kesampaian samadinya. Kedatangan Dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima, bersatunya Kawulo Gusti.
Didalam pandangan dalamnya , Bima bisa melihat segalanya, segalanya telah terbuka untuknya ( Tinarbuko). Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya. Dia telah menemukan sejati pribadinya yang berada didalam dirinya.” Aku Bima”, telah bertemu dengan “Bima Sejati” yang berupa cahaya.


Bambang Ekalaya


Bambang Ekalaya
                
Ketika remaja, Pandawa dan Kurawa dididik oleh seorang Brahmana mulia dan guru utama bagi putra raja Hastinapura yang sakti dan terkenal dengan ajian Danurwedanya yaitu Resi Drona. Resi Drona mengajarkan berbagai ilmu kepada para siswa sesuai dengan kemampuannya. Suatu hari para siswa di ajar untuk memanah.  digantunglah sebuah apel dengan seutas tali di dahan pohon mangga. Satu per satu para siswa diminta untuk memanah apel tersebut. Duryudana tampil terlebih dahulu dengan gendewa di tangan dan langsung menarik busur dan membidik anak panah ke arah apel tersebut, namun Duryudana gagal melakukannya. Selanjutnya adalah Bima, tetapi Bima juga tidak berhasil. Disusul dengan Arjuna, dan akhirnya Arjuna berhasil melesakkan panahnya tepat pada sasaran. Para Pandawa berteriak bangga dan para Kurawa menggerutu. Resi Drona berpesan bahwa konsentrasi terhadap sasaran adalah hal utama dalam keberhasilan memanah.
                   Dari kejauhan ternyata ada anak sebaya Pandawa dan Kurawa yang mengintip kegiatan mereka. Dia kagum melihat gerak – gerik dan ucapan Resi Drona. Anak ini adalah pangeran dari negeri seberang yang bernama Bambang Ekalaya. Dia adalah seorang ksatriya tampan yang mempunyai kemauan keras serta bakat yang luar biasa, mantap dan gagah berani. Dia memiliki keinginan yang kuat untuk belajar memanah, lalu dia memberanikan diri untuk menghadap dan memohon untuk bisa menjadi murid Sang Begawan Drona. Akan tetapi Begawan Drona sudah terikat janji pada kekuasaan di Astinapura bahwa Begawan Drona hanya akan mengajarkan ilmu kaprajuritanya pada Pandhawa dan Kurawa saja, lalu ditolaklah permohonan Bambang Ekalaya. Kemudian Bambang Ekalaya membuat patung perwujudan Begawan Drona, dan sambil membayangkan bahwa patung itu adalah Begawan Drona yang sesungguhnya maka secara otodidak dia mulai belajar memanah dan ilmu keprajuritan lainnya. Dengan kegigihannya berlatih memanah, akhirnya Bambang Ekalaya menjadi pemanah yang tangguh.

Miyosiopun Raden Gathutkaca


Miyosiopun Raden Gathutkaca

                   Kacariyos ing kasatriyan Jodhipati, Raden Wrekudara judheg penggalihipun awit puseripun Raden Gathutkaca mbadal saking saliring dedamel. Najan kukunipun ingkang rama, inggih punika kuku pancanaka ingkang kondhang landhepipun pitung penyukur, meksa boten tedhas kangge ngethok puseripun Raden Gathutkaca. Raden Wrekudara lajeng minta sraya dhateng raka prabu ing Dwarawati inggih punika Sri Bathara Kresna, paranparaning kadang Pandhawa.
                   Prabu Kresna boten kekilapan, lajeng utusan Raden Arjuna kinen ngampil sanjata Kuntawijayadanu dhateng kahyangan Jonggringsaloka. Geganjangan Raden Arjuna lajeng bidhal dhateng kahyangan Jonggringsaloka. Raden Arjuna rumaos kuciwa, awit Jawata sampun kalajeng maringaken sanjata Kunta dhateng Raden Suryaputra ingkang sowan langkung rumiyin. Raden Arjuna enggal – enggal nyuwun pamit, nungka lampahipun Raden Suryaputra. Wonten ing margi saged pinanggih kaliyan Raden Suryaputra. Sanjata Kunta kasuwun dening Raden Arjuna ananging Raden Suryaputra boten angulungaken. Ing wasana dados pancakara rame sanget. Wekasanipun sanjata Kunta saged karebat dening Raden Arjuna. Raden Arjuna lajeng gegancangan kondur dhateng kasatriyan Jodhipati.
                   Dumugi ing kasatriyan Jodhipati sanjata Kunta lajeng kaaturaken Prabu Kresna. Sedaya sami kaget, awit ingkang kenging karebat jebul namung warangkanipun kemawon. Sri Bathara Kresna lajeng paring dhawuh dhateng Raden Wrekudara. “Dimas Sena, aja cilik atimu Yayi! Kersaning dewa pancen kudu ngono kuwi. Najan iku mung wujud warangka, nanging bisa mrantasi. Mara age tamakna menyang pusering putramu Yayi! Sing waspada ya, Dhi!”
                   Dupi tampi dhawuhipun ingkang raka Prabu Sri Bathara Kresna, Raden Wrekudara boten tidha – tidha malih. Warangka lajeng katamakaken ing pusering jabang bayi. Sanalika puser pedhot, ari – ari musna, nanging warangka sirna manjing ing pusering jabang bayi. Raden Wrekudara bingung lajeng ngendika, “Jlitheng Kakangku! Iki kepriye! Sida mati tenan jabang bayi iki mengko! Ijole kowe, heeee!”
                   Dhasar Prabu Kresna pangayomaning titah sabumi, boten badhe kekilapan dhateng sedaya lelampahan. Pangandikanipun alon. “Sareh, sareh, Yayi! Pun kakang ora maido menawa sliramu padha bingung lan kodheng. Coba padha mirengna kandhaku ya, Dhi! Lelakon iki pancen wis dadi kersaning Jawata. Wis ginaris menawa warangka iku kudu musna manjing ing pusering putramu, sarta iku dadi sifat kandele. Nanging wanti – wantine pun Kakang ya, Yayi! Mbesuk lamun ana curiga ngupadi warangka, si Adhi kudu waspada, putramu singitna ya, Dhi!”
                   Pangandikanipun Sri Bathara Kresna adamel cumeplongipun Raden Wrekudara dalah kadang Pandhawa sedaya. Kala semanten Jawata ugi lajeng rawuh mertakaken ponang jabang bayi ingkang ngantos nuwuhaken gara – gara punika. Saking keparengipun Jawata, jabang bayi dipunasta dhateng kahyangan. Wonten kahyangan jabang bayi punika dipundandosi. Ingkang suwau arupi denawa, sareng dipundandosi malih dados satriya bagus sekti mandraguna.
                   Ing salajengipun Raden Gathutkaca dipunminta sraya dening Jawata, kinen numpes parangmuka saking praja Maimantaka ingkang dipunpandhegani Prabu Kala Pracona saha Patih Kala Sekipu ingkang nedya ngobrak – abrik kahyangan Jonggringsaloka. Raden Gathutkaca unggul juritipun. Prabu Kala Pracona dalah patih Kala Sekipu pejah dening Raden Gathutkaca. Dene wadyabalanipun sami bubar mawur.
                   Sasampunipun purna dados srayaning Jawata, Raden Gathutkaca lajeng kawangsulaken dhateng kasatriyan Jodhipati, kapasrahaken dumateng rama lan ibunipun inggih punika Raden Wrekudara dalah Dewi Arimbi. Sedaya para Pandhawa dalah Prabu Sri Bathara Kresna sami bingah.




Kamis, 12 Juni 2014

Ismaya Bangun Jiwa


Ismaya Bangun Jiwa

                   Semar merupakan keturunan dewa, semar bertugas mengasuh para raja penegak kebenaran dan melayani para raja dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih dan sungguh – sungguh. Semar memiliki niat untuk membangun jiwa para Pandawa, kemudian Semar menyuruh Petruk untuk memanggil para Pandawa beserta tiga pusaka, yaitu Jamus Kalimasada, Tumbak Kalawelang, dan Payung Tunggulnaga ke tempat tinggalnya, yaitu Karang Kabulutan. Sebagai penasihat keluarga Pandawa, Semar bertujuan untuk membangun nurani para majikannya.
                   Tiga pusaka tersebut memiliki simbol adanya niat baik Semar pada para Pandawa. Kalimasada diartikan sebagai kalimat syahadat yang bertujuan untuk menumbuhkan jiwa ruhani. Tumbak Kalawelang diartikan sebagai ketajaman dengan maksud untuk membangun ketajaman visi, hati, dan panca indera para Pandawa. Sedangkan Payung Tunggulnaga maksudnya ungkapan untuk Pandawa sebagai pemimpin harus mempunyai sifat mengayomi seperti halnya fungsi payung itu sendiri.
                   Terjadi kasalahpahaman antara Kresna dan Semar, Kresna menganggap bahwa apa yang dilakuakan Semar bertentangan dengan ketentuan dewata. Yudhistira dan Bathara Guru ikut terprovokasi oleh Kresna. Mereka menyerang Semar, Semar beserta Bagong, Petruk, dan Gareng pun melakukan perlawanan. Akhirnya Semar dan perajuritnya berhasil mengalahkan pasukan Pandawa.
                   Dalam cerita ini mengandung pesan agar para penguasa mau mendengarkan suara rakyatnya, bijaksana, tidak sewenang – wenang dalam menegakkan keadilan. Untuk rakyat, agar berani menyuarakan kebenaran dan gigih dalam mempertahankan kebenaran itu.

Selasa, 10 Juni 2014

Sri Boyong


Sri Boyong

                   Dikisahkan di negeri Amarta yaitu negeri para Pandawa sedang terkena bencana, mengalami krisis yang berkepanjangan, kejahatan merajalela, kakacauan terjadi dimana – mana, mengalami, mengalami gagal panen, dilanda kelaparan dan penyakit, korupsi semakin marak. Selain itu juga adanya masalah internal antar pemimpin negeri Amarta.
                   Yudhistira yaitu raja negeri Amarta kebingungan untuk mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian Prabu Kresna yaitu sepupu Pandawa berpesan pada Yudhistira untuk mencari Sang Hyang Sri. Karena hanya kedatangan Sri yang bisa mengembalikan kesejahteraan Amarta. Sang Hyang Sri atau Dewi Sri adalah Dewi Kesejahteraan dan Kesuburan. Dia mempunyai watak yang murah hati, baik budinya, sabar, dan bijaksana.
                   Kemudian semua kesatria Pandawa dikerahkan untuk menemukan Sri, tetapi mereka selalu mengalami kesulitan dalam pencarian. Para penguasa negeri angkara menghadang mereka. Gatotkaca, Setyaki, bahkan Arjuna pun tidak mampu mengalahkan mereka. Menurut Kresna, yang bisa membawa Sri pulang hanyalah kesatria yang masih suci, bernurani, dan berani.
                   Yudhistira mengutus Bambang Probo Kusuma putra Arjuna untuk menjalankan misi itu. Melalui perjuangan dan usaha yang sangat berat dan penuh resiko, akhirnya Bambang bisa membawa Sri ke Amarta. Sri muli dan negeri Amarta kembali pulih.